Jejak Pergerakan Tanah Paska Gempa Lebak, 23 Januari 2018


Pengolahan InSAR Paska Gempa Lebak, 23 Februari 2018
Gempa bumi dengan skala 6.1 SR telah terjadi dengan pusat gempa di Samudera Hindia pada tanggal 23 Januari 2018, Pukul 13.34 WIB. Pusat gempa berjarak kurang lebih 43 km dari Kota Muarabinuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak Banten dengan kedalaman 10 Km. 



Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan cukup parah di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. 



Sedangkan untuk provinsi Jawa Barat dampak paling parah terjadi di Kabupaten Sukabumi. Cianjur dan Bogor, dengan ditandai dengan rusaknya bangunan dan beberapa korban meninggal dan luka-luka.

Berdasarkan analisis Interferometry Synthetic Aperture Radar, dari data Satelit Radar Sentinel 1A milik European Space Agency (ESA)  dapat dilihat pergerakan lahan paska gempa bumi Lebak terjadi. Tetapi sampai dengan data ini dianalisis, baru tersedia data untuk area Jawa Barat yaitu Sukabumi, Bogor, Cianjur dan sekitarnya. Data yang dianalisis menggunakan data satellite Sentinel 1A C-Band Frekuensi tanggal perekaman 20 Januari 2018 dan 1 Februari 2018, dengar arah terbang satelite Descending pada Path 47 dan Frame 614.


Berdasarkan hasil analisis di atas, tampak pergerakan tanah berupa penurunan tanah (subsidence). Di beberapa lokasi juga terlihat tanah yang naik permukaannya. Pergerakan tanah tersebut terjadi bervariasi antara 0 -  3 cm.  

Untuk penurunan tanah terjadi di daerah Cianjur kota, Sindang Asih, Kampung Jangga, Sukaluyu, Cilaku, Cisokan, Sukanegara dan daerah Cibodas. Sedangkan untuk daerah Sukabumi terjadi penurunan tanah di sekitar daerah Situ Batukarut, dan Cimanggu. Di daerah Bogor terpantau penurunan tanah sekitar 1 cm terjadi di daerah Mega Mendung, Puncak, serta Hulu Sungai Ciliwung. Di daerah Sukabumi dan Bogor juga terjadi kenaikan permukaan tanah beberapa sekitar 1 cm.

Pengolahan data Interferometry synthetic aperture radar ini sengaja mengggunakan data dari 2 citra satelit dengan waktu perekaman yang paling berdekatan dengan kejadian gempa yaitu data tanggal 20 Januari dan 1 Februari 2018, dengan harapan dapat memotret kondisi permukaan bumi sedekat mungkin dengan waktu kejadian gempa. Untuk kepentingan pemantauan penurunan permukaan bumi akibat eksploitasi air tanah, erosi, dan prediksi potensi longsor dan lain sebagainya dapat menggunakan data dengan waktu pengamatan yang lebih panjang antara 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Satelit radar sendiri saat ini menjadi satelit yang sangat dapat diandalkan untuk memantau bumi dalam segala kondisi cuaca baik siang maupun malam, baik dalam kondisi langit cerah atau berawan. Hal ini karena sifat dari sensor radar sendiri yang merupakan sensor aktif yang dapat memancarkan energi sendiri tanpa bergantung kepada cahaya matahari 

Post a Comment

0 Comments